Semesta; Aku Izin Jeda, Sementara.
Page 8 Of 365
Meski diawali dengan airmata yang tak jua lekas mengering.
Wajah fake ditampakkan hanya untuk menutupi betapa sedihnya, betapa rumitnya.
Bahkan diri sendiri tak mampu menjelaskan bagaimana rasanya.
Sering ku berfikir, oleh siapa hidupku ini diatur.
Sikapku, keputusanku, seolah menjadi tawanan yang siap ditikam apapun itu bentuknya.
Januari.
Bukankah Tuhan menciptakan Januari sebagai bulan pembuka harapan?
Harapan bahagia, tawa, kesenangan, menutup lembaran masa lalu yang kelam.
Sempat menyelipkan doa diantara langit fajar menuju petang,
"Wahai pemilik alam, aku terlalu banyak menangis, hingga lupa arti bersyukur. Tenangkanlah khawatir yang mendera."
°°
Bagi orang lain; aku adalah ruang untuk mendengarkan, pelik mereka selalu kupeluk erat, kutunjukkan dengan maksimal kepedulianku yang meski sering diabaikan.
Tapi, sebentar saja..
Aku ingin menjadi ruang untuk diriku sendiri, menjadi telinga untuk perasaanku sendiri, menjadi peluk untuk pelikku sendiri.
Aku ingin belajar menghargai diri yang sudah bersusah payah ini, dan berterimakasih atas perjuangannya.
Aku pantas lelah,
tapi aku percaya bahwa Tuhan tak ingin aku menyerah, Tuhan hanya ingin aku memasrahkannya. .
°°
Januari.
Bukan awal yang baik, tapi tak berarti punya kisah yang buruk.
Masih ada waktu sampai penghujung Desember nanti.
Selama masih ada harapan,
Selama sajadah masih dihamparkan,
Selama masih melibatkan Tuhan,
Aku tak akan kehilangan arah.
Semesta;
Aku izin jeda, sementara.
Boleh 'kan?
Karawaci, 8 Januari 2021
Komentar
Posting Komentar